Mau’idhotil Hasanah & Kemurnian yang Tersisa

Saat itu malam ahad, hujan deras mengguyur Bandung. Guru kami tiba ba’da magrib di Masjid Habiburrahman menggunakan jas hujannya yang basah kuyup. Kami berkumpul di ruangan, dan menyaksikan beliau masuk dengan raut wajah sukacita, bersemangat seperti biasanya walaupun terlihat lelah. Saya memberanikan diri bertanya, “Ustadz, kenapa tidak pakai mobil saja? Kan hujan..”. Lalu beliau menjawab dengan jawaban yang luar biasa. Jawabannya kurang lebih seperti ini: “Akhwat semua mau tahu jawabannya kenapa saya pakai motor?. Karena kalau saya pakai mobil, akan sulit diduplikasi.”

Duplikasi? Kami terbengong tidak mengerti.

Lalu beliau melanjutkan: “Dalam berdakwah, kita harus posisikan diri dengan objek dakwah kita. Jangan sampai apa yang kita lakukan, yang kita kenakan.. itu dirasa terlalu tinggi oleh objek dakwah kita. Kalau saya pakai mobil, mereka akan berpikir: Wah, harus punya mobil ya supaya jadi seperti Ustadz?” Kami terdiam. Malu.

Beliau masih melanjutkan. “Saya barusan ngisi halaqoh anak2 SMA, mereka baruuu banget mulai ngaji, jadi ngga ngerti kalau ngaji itu harus bawa apa aja?.“ Kemudian beliau mengeluarkan segenggam pena dan sebuah buku notes tebal. “Nih…saya sediain pena dan notebook buat mereka. Ngga perlu menyuruh mereka bawa ini. Pertama kita yang bawa, minggu depan mereka insyaAllah sudah bawa buku dan pena”.

Beliau juga, yang mencontohkan bahwa bakti kepada orang tua, adalah di atas segala-galanya. Bukan sekedar kata, beliau melakukannya. Beliau selalu mengantar Ibundanya ke pasar untuk belanja bahan dagangan sayuran setiap malam mulai pukul 00 hingga pukul 2 dinihari. Bahkan beliau bilang.. “Haji atau umroh bagi saya belum lebih wajib daripada berbakti kepada Ibunda saya. Selama beliau masih ada, beliau-lah letak bakti saya”.

Beliau yang membesarkan hati kami ketika mulai kesulitan, bosan, dan merasa tak sanggup lagi. Beliau bilang.. “Menghafal itu bukan tentang seberapa banyak dan cepatnya, melainkan tentang seberapa lebih dekat kita dengan Allah dengan hafalan kita. Seberapa besar kita menikmatinya dalam sholat. Seberapa lebih baik diri kita seiring bertambahnya hafalan”.

Beliau selalu sedia pensil dan penghapus ketika menyimak murojaah kami. Melingkari yang salah agar kami ingat terus letak kesalahannya. Kemudian, ketika kami murojaah lagi di lain waktu.. beliau akan siaga dengan penghapusnya. Untuk apa? Untuk menghapus lingkaran-lingkaran kesalahan yang tidak kami ulangi. Percaya atau tidak, cara ini sangat berkesan di hati saya. Sangat. Betapa beliau sangat menghargai perjuangan kami dalam memperbaiki kesalahan.

Seperti itulah, Guru tahfidz kami ~hafizhahullah~ yang begitu teladan. Kadang kami hanya bisa diam termenung mendengarkan nasihat beliau yang penuh hikmah dan keteladanan. Beliaulah yang telah membuat diri ini (lebih) yakin bahwa apapun yang terjadi dalam hidup, syukuri…sabari. Lakukan apa yang Allah ridho, karena keridhoan Allah itu cukup bahkan lebih dari segalanya. Beliau yang telah mengajarkan kami untuk lebih menjaga diri. Tak sepantasnya seorang muslimah yang menghafal itu curhat di facebook, apalagi narsis dengan foto dirinya. Di tengah kaburnya adab interaksi di dunia maya yang memburamkan mata-mata kami, (bagi kami) beliau begitu murni. Prinsip beliau adalah oase yang dulu pernah kami rasakan sejuknya namun hilang ditelan zaman.

——
Suatu subuh pada kesempatan mabit rutin di Habiburrahman, Ustadz Abdul Aziz Al Hafizh melantunkan Surah An-Nahl.. hingga pada ayat:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
(QS An-Nahl: 125)

Mau’idhotil hasanah. Kata-kata ini mengena di hati. Terkenang bagaimana Ustadz kami mencontohkan keteladanan yang lebih ber-efek daripada seribu kata. Ternyata mungkin inilah yang membuat produk tarbiyah di masa-masa awal karakternya lebih kuat meski jumlahnya sedikit. Masa-masa ketika ngaji lebih bermakna karena keikhlasan murobbi/ah-nya; Quran lebih sering dibaca daripada laman-laman dunia maya; Silaturrahim mengetuk pintu rumah saudarinya belum tergantikan dengan media chat yang kini bisa diakses dengan mudahnya.

Mau’idhotil hasanah. Alangkah beruntungnya, generasicicit musholla yang bisa tetap menjaga asholah. Tetap menjadi original meski marginal. Perilakunya, prinsipnya, keputusan penting dalam hidupnya.. menjadi pengajaran yang baik bagi orang lain.

Mau’idhotil hasanah. Mungkinkah kami menjadi salah satunya? Mungkinkah? Semoga…

~Jakarta, sebulan menjelang Ramadhan 1435~

4 Comments

Filed under Diary

4 responses to “Mau’idhotil Hasanah & Kemurnian yang Tersisa

  1. Iftitah Abdulkadir

    Segala doa kebaikan untuk beliau, dan santri yang menulis ini. Haru bacanya kak :'(

  2. #jleb. untuk kesekian kalinya taujih beliau menamparku.. apa lagi karena sekarang orang-orang sudah pakai internet, militannya kurang, beda dgn dulu ya.. izin share ya.. :)
    guru yang masyaAllah banget diatas Ustadz Abdul Aziz ya? Baarokallaahu fiih. Setorannya langsung ke ustadz ya? Mantap banget, nanti winda talaqqi langsung sama mbak deh :)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s