catatan survival

Pertengahan 2013 kemarin ada perjalanan seru. Seluruh pegawai baru (yang lebih sering dijuluki “generasi muda” hehe) diwajibkan ikut survival selama 2 minggu. Agak heboh juga awal kabar ini beredar karena belum pernah ada outing selama DUA MINGGU.  Semua orang bertanya-tanya survival macam apa ini?. Yang mengejutkan adalah: ternyata agenda ini permintaan khusus dari Bapak Dirjen dan WAJIB diikuti, tidak ada eksepsi. Yang dinas diminta pulang. Yang urus2 sekolah tunda dulu. Satu-satunya alasan yang diterima adalah: sakit.

Jujur, saya angkat topi dengan Bapak pimpinan yang baru ini. Beliau tidak suka dengan acara semacam perayaan dan gathering  yang tiap tahun selalu diadakan dan menyerap anggaran yang konon ratusan  j**a. Beliau lebih suka mengalokasikan uang untuk membangun karakter SDM-nya. Kata beliau saat pelepasan peserta: “Saya nggak suka kalian yang masih muda tapi letoy gitu. Jadi anak muda itu yang punya daya dongkrak gitu lah..  *wink*

Saya, bersama sekitar 70-an orang lainnya dapat giliran angkatan pertama yang jatuh 2 minggu menjelang Ramadhan.  Sebagai persiapan sebelum berangkat, kami diminta lari keliling lapangan bola Mabes POLRI sebanyak 4 putaran. Kami diminta membawa perlengkapan berupa: baju ganti, perlengkapan sholat, sepatu kets, dan obat pribadi. Dan berikut rute perjalanan survival:

5 hari: pelatihan di barak militer PUSDIKIF Cipatat Jawa Barat
2 hari: menginap di permukiman warga di kaki Gunung Burangrang
3 hari: mendaki dan bermalam di Gunung Burangrang
2 hari: acara bersama seluruh pimpinan di Lembang

rute_survival_djpr_2013

1 hari di Cimahi:

Seharusnya kami langsung dibawa ke Cipatat setelah pelapasan di kantor. Namun karena tempat belum siap, akhirnya kami disinggahkan dulu di Yon Armed Cimahi. Yon Armed itu satuan Angkatan Darat tingkat kabupaten yang (sepertinya) punya tugas latihan lapangan. Yon Armed juga menjadi tempat persediaan senjata dan alat perang. Kami menginap semalam di sana, tidur di atas velbed dan mulai diperlakukan seyogyanya tentara. Misalnya:

Tidur: Tempat tidur harus rapi. Seluruh barang diletakkan di bawah velbed. Sandal dan sepatu disusun dari ukuran terbesar sampai terkecil. Tidak boleh ada barang di atas velbed. Makan: Makan harus di meja makan, bersamaan, tidak boleh berbicara, dan harus CEPAT (waktu makan hanya 3-4 menit). Makan diawali dengan doa dan ditutup dengan doa. Setiap doa dipimpin oleh salah seorang peserta. Selain itu, di sana juga kami diajari cara berbaris dan bonus naik Tank Merkava buatan Rusia. Wonderful.

5 hari di Cipatat:

Kedatangan di Cipatat bikin kami berdecak kagum. Kami memasuki sebuah kawasan latihan militer untuk pertama kalinya. PUSDIKIF, singkatan dari Pusat Pendidikan Infanteri, adalah barak militer yang digunakan untuk melatih anggota TNI-AD dari seluruh Indonesia. Tempat ini cukup luas. Di dalamnya ada puluhan bangunan mess, kantor, tempat khusus makan, lapangan bola, lapangan tembak, dan jalan-jalan aspal yang menghubungkan diantaranya.  Di seluruh bagian tumbuh pohon-pohon besar yang makin membuat area ini hijau asri. Sekaligus horor.

Berikut agenda di Cipatat: Bangun sebelum subuh, sholat, dan kumpul di lapangan pukul 5.00 untuk olahraga. Usai olahraga, mandi dan segera menuju tempat makan untuk sarapan. Pukul 8 sampai sore acara penyampaian materi di kelas, outbond, games, atau belajar baris berbaris (lagi). Sore hari mandi dan makan malam, dilanjutkan dengan sesi evaluasi per kelompok. Pada hari ke 4 dan 5, kami berkesempatan merasakan arung jeram di Sungai Citarum dan panjat tebing di tebing batuan alam Padalarang . Dua kegiatan terakhir ini yang paling favorit, meskipun pasca itu ada beberapa teman yang akhirnya tidak boleh melanjutkan survival karena cedera.

2 hari di Homestay

Selesai di barak militer, kami diboyong ke kaki Gunung  Burangrang. Di sana ada sebuah desa yang memang dijadikan tujuan wisata. Rumah-rumah disana disulap menjadi homestay yang biasa disinggahi dan diinapi. Celakanya, kendaraan yang mengangkut kami –sengaja- tidak mengantar sampai homestay. Kami diturunkan di sebuah desa yang jauhnya puluhan kilometer sebelum lokasi homestay. Dan, coba tebak?

Tepat sekali. Kami disuruh jalan kaki dari desa itu ke lokasi homestay dengan menggendong tas ransel yang mahaberat. Perjalanan ini mereka (panitia) sebut “pemanasan”. Dan memang benar panas karena hari itu sangat terik. Kami dibagi dalam 10 kelompok dan berjalan selama kurang lebih 4-5 jam menuju homestay. Kami menginap 2 malam di rumah penduduk. Bercengkerama dengan mereka dari dekat. Agenda di sini ditutup dengan gotong royong membersihkan lingkungan bersama warga.

3 hari di Gunung Burangrang

Boleh dikatakan ini adalah acara inti. Kami mendaki gunung. Buat saya yang memang berasal dari gunung sih tak terlalu istimewa *hehe songong*. Tapi.. bagi teman-teman yang belum pernah samasekali, ini jadi masalah. Kisah lucu bahkan sedih bertebaran di sepanjang perjalanan.

Gunung Burangrang ini tidak terlalu tinggi, hanya saja medannya sulit. Oleh karenanya, selain kami para anakmuda yang sok jagoan ini.. disertakan pula mentor di tiap kelompok (mereka dari pecinta alam), dan juga 2 orang “penunjuk jalan” dari warga sekitar Burangrang. Supply logistik kami selama 3 hari tidak dibawa sekaligus. Kami hanya menggendong bekal untuk makan satu hari. Nanti tiap malam akan dibagi lagi logistik untuk hari berikutnya. Lalu siapa yang membawakan logistik tambahan ini? Mereka adalah orang-orang khusus yang dikirim dari desa untuk naik membawa bahan makanan untuk kami. Haha, jadi ini naik gunung atau wisata?. Harus diakui pada bagian ini kami menyadari bahwa kami adalah pendaki yang sangat amatir sekali :D. Tapi meski demikian, tensi pendakian level ini memang cukup bagi kami, karena tanpa membawa bekal makan 3 hari pun kami sudah keberatan bawaan.

Malam pertama di Gunung, kami sengaja tidak diarahkan. Dibebaskan membuat tenda dengan perbekalan yang ada. Alhasil, berbagai rupa tenda yang tercipta. Ada yang kependekan, ketinggian, kurang bahan dan sebagainya. Tapi bersyukur, malam itu tidak hujan. Di sana kami mulai merasakan hidup jauh dari peradaban, terutama untuk urusan toilet! T_T

Malam kedua, kami diminta membuat bivak alam (tenda dari pepohonan). Tentu sudah diajarkan caranya sebelumnya. Alhamdulillah malam kedua “rumah” kami lebih bagus.  Malam ketiga, kami tiba di hutan pinus. Sepertinya sudah dekat permukiman. Malam itu, kami tidur sendiri-sendiri dalam format solo-camp. Setiap satu orang harus berjarak minimal 3 meter dari peserta lainnya. Kami membangun tenda sendiri dengan sangat buru-buru karena hari sudah gelap ketika tiba di lokasi. Di momen ini, ada seorang teman yang sampai menangis karena takut tidur sendirian. Dan di momen ini pula, dengkuran seorang teman yang termasyhur selama survival ini, menjadi tanda bahwa malam itu kami tidak sendiri. Hehe akhirnya dengkuran punya manfaat juga.

2 hari di Lembang

Voila! Masa kejayaan tiba. Hehe. Saat itu melihat jalan berbatu adalah sebuah kabar gembira karena artinya kami sudah dekat permukiman. Kami diboyong ke Lembang. Di sana sudah menanti Bapak&Ibu pimpinan dari eselon 1 sampai 4. Hal yang pertama kali ditanyakan atasan saya waktu itu adalah: “Kamu ngga papa Mba?”. Dan mulailah kami berkisah tentang penderitaan selama di hutan dengan dramatisasi yang berlebihan :D

Di lembang, kami akhirnya menerima kembali barang kami yang sangat berharga yaitu Handphone. Selama survival memang HP ditahan panitia dan hanya diberi 2x kesempatan untuk mengubungi keluarga. Beruntung waktu di Cipatat saya punya kesempatan 1 hari bersama HP, karena izin keluar untuk wawancara beasiswa di Bandung.

Acara di Lembang adalah dominan games dan diskusi bersama pimpinan. Jarang-jarang ada momen seperti ini dimana kami disatukan dengan  mereka dalam atmosfir yang informal. Yak, Begitulah kisahnya..

Lesson Learned:

  1. Disiplin: Poin ini banyak didapat di barak militer. Betapa hidup teratur itu enak. Olahraga tiap hari awalnya menyiksa sekali, masih ngantuk disuruh loncat-loncat, push-up. Tapi lama-lama terasa juga badan yang lebih segar & semangat akan membuat hidup lebih produktif. Selain itu, kebersihan dan kerapihan banyak didapat ketika mengatur barang di kamar dan baris berbaris.
  2. Saling membantu: pembelajaran ini banyak ditemukan ketika mendaki gunung. Kita tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Akan ada saat kita butuh orang lain. Oleh karenanya, jangan pernah bikin masalah dengan orang lain. Berlakulah baik karena mungkin tidak selalu ada persahabatan sejati, tapi selalu ada kebutuhan sejati.
  3. Mandiri: Terlepas dari ketergantungan terhadap orang lain, kita juga harus punya kapasitas diri yang cukup. Mandiri itu penting, karena orang lain tidak selalu bisa diandalkan. Ada saat dimana kita bertemu masalah dan hanya kita yang harus bisa mengatasinya. Misalnya ketika naik gunung, jika hanya kuat menggendong beban 7 kilo maka jangan bawa barang 10 kilo, karena kita akan merepotkan orang nantinya.
  4. Mengenal diri: Benar kata sebuah quote: “di hutan memang tidak ada sinyal jaringan komunikasi, tapi banyak sinyal untuk mengenal diri sendiri”. Percayalah..ketika kita di hutan, kehabisan makanan, kehujanan tiada tempat berteduh..kita akan tahu bahwa diri ini kecil di hadapanNya. Dan di sana muncul karakter diri kita. Apakah kita termasuk orang yang sabar, atau mudah mengeluh dan mengandalkan orang lain.

100_4182_resized

3 Comments

Filed under Diary

3 responses to “catatan survival

  1. Ah…akhirnya ada yang nulis juga, hihihi….so memorable yah? :-D

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s