Setujuan, Beda Cara.

Sesekali, pola pikir beberapa saudari dari salafy yang “memojokkan” perlu ditanggapi. Bukan berniat membela diri atau mencari pembenaran, melainkan menengahi. Karena apa ya… saya kok berfikir kalimat-kalimat “memojokkan” itu bukanlah ciri seorang muslim yang dewasa dalam menyikapi perbedaan.

Hidup terpaut 1400an tahun dari Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam itu memang harus begini, berada di antara dua bahkan lebih ijtihad yang berbeda. Dulu, pasca Rasulullah wafat, masih ada khulafaurrasyidin selama 30 tahun. Kemudian dilanjutkan dengan Bani Umayyah di Damaskus sekitar 90 tahun. Lalu khilafah Bani Abassiyyah di Baghdad selama ratusan tahun. Dan terakhir kita punya Turki Utsmani yang runtuh tahun 1924. Pasca itu, islam banyak mengalami kemunduran bahkan terjajah di bawah kolonialisme dan imperialism barat. Kita mundur dari soal ilmu pengetahuan, budaya, sampai kekuasaan.

Adanya berbagai harakah (gerakan) islam saat ini merupakan hasil ijtihad. Ijtihad yang lahir sebagai alternatif kekosongan khilafah dan kemunduran umat islam pasca runtuhnya khilafah terakhir: Turki Utsmani. Maka tak heran jika sekarang harus tersuguh realita perbedaan jalan juang dalam tubuh umat islam. Sebutlah Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir, Jamaah Tabligh salah tiganya, jika memang Salafy enggan disebut harakah :-)

Nah, beberapa hari yang lalu saya membaca status facebook seorang saudari salaf yang membuat saya (lagi-lagi) ingin komentar. Tapi saya urung karena tidak mau berdebat di dunia maya. Berikut kalimat yang ditulisnya, saya kopi persis:

Apa yg sbnrnya prioritas perjuangan oleh dai2 islam di parlemen? Bisakah mendakwahkan tauhid sbg prioritas dakwahnya? Jika ada kita wajib mendukung, namun adakah? Sudahkah? Pernahkah? Bukankah itu seruan pertama dan yg utama dalam dakwah para nabi dan rosul. Sungguh korupsi, kemaksiatan itu disebabkan jauhnya kaum muslimin dari aqidah yg haq. Kesyirikan merajalela. Betapa banyaknya quburiyyun (peminta berkah) para wali di kuburan, percaya pada kuburan, percaya tanggal Keberuntungan dan kesialan. Inilah yg mjd PR terbesar dai2 ilalloh. Memurnikan aqidah. Mengajak kpd uluhiyyah. Dengan begitu kemenangan dan kekuasan islam akan diraih. Karena itulah janji Alloh subhanahu wa ta’ala : “sekiranya penduduk negeri-negeri BERIMAN dan BERTAQWA, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A’raf : 96)
Dan salah satu adzab Allah di dunia adalah ditimpakannya bagi mereka pemimpin yang zhalim, sebagaimana mereka berbuat zhalim terhadap diri-diri mereka…Jika SETIAP MUSLIM di negeri ini berusaha untuk BERIMAN dan BERAMAL SHALIH.. bukankah akan tercipta KESHALIHAN diseluruh negri? dan bukankah Allah telah berjanji:

ﻭﻋﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻣﻨﻜﻢ ﻭﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh

ﻟﻴﺴﺘﺨﻠﻔﻨﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺄﺭﺽ ﻛﻤﺎ ﺍﺳﺘﺨﻠﻒ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻬﻢ
bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,

ﻭﻟﻴﻤﻜﻨﻦ ﻟﻬﻢ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﺍﺭﺗﻀﻰ ﻟﻬﻢ
dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,

ﻭﻟﻴﺒﺪﻟﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺑﻌﺪ ﺧﻮﻓﻬﻢ ﺃﻣﻨﺎ
dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.

ﻳﻌﺒﺪﻭﻧﻨﻲ ﻟﺎ ﻳﺸﺮﻛﻮﻥ ﺑﻲ ﺷﻴﺌﺎ
(dengan syarat) Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku….(An-Nur : 55).

Barangkali sebagian kita ini tdk yakin dgn janji Alloh, tdk sabar atau putus asa. Ingatlah sdrku janji Alloh itu pasti…buktikanlah dengan taqwamu..

Komentar saya:

Hm, oke masalah aqidah dan tauhid.

Memurnikan aqidah (keimanan yang pasti kepada Allah) dan tauhid(meng-Esa-kan Allah) sebagai cabang ilmu aqidah, memang menjadi sorotan dan prioritas utama dakwah manhaj salaf. Itulah mengapa dalam status tersebut disebut masalah yang masih menjadi PR yaitu kesyirikan berupa meminta ke kuburan, mempercayai tanggal baik, dan lain-lain. TAPI.. apakah aqidah dan tauhid hanya sebatas itu? Kalau saya melihat: TIDAK. Masalah aqidah tidak melulu tentang itu quburriyun dan tahayul.

Kehidupan sekarang ini sudah modern. Manusia tidak hanya mendatangi kuburan untuk minta kekayaan, mereka sudah lebih “cerdas”. Cobalah lihat… uang sudah menjadi Tuhan sekarang. Banyak orang bekerja keras bahkan menghalalkan yang haram demi mendapatkan yang namanya uang. Di kubikal-kubikal perkantoran, di meja-meja parlemen yang terhormat, di atas meja para birokrat, di mana-mana orang bermain uang demi memuaskan keinginan pribadinya. Bukankah itu masalah aqidah?

Cobalah lihat…generasi muda kita yang duduk di bangku sekolah dan pendidikan tinggi. Masalah pergaulan, pacaran, seks bebas, music  generation, K-Pop generation, Punk, Alay, dan sederet fenomena aneh yang jauh dari sunnah, kini menjangkiti mereka semua. Akhlaq mereka, budaya mereka, bukankah masih PR besar buat kita? Bukankah itu masalah aqidah?

Coba lihat juga, rumah-rumah tangga yang jauh dari sentuhan nilai-nilai islam. Begitu banyak masalah yang ternyata dihadapi oleh ibu-ibu. Kebingungan mereka tentang agama, kebutuhan mereka akan lingkungan (bi’ah) yang shalih.. keinginan mereka untuk mendidik anak dengan baik, masalah KDRT, dan sebagainya. Bukankah itu juga aqidah?

Dakwah ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Aqidah saja, politik saja, akhlak saja. Semua harus saling beriringan seperti yang dilakukan Rasulullah dalam fase dakwahnya di Mekkah dan Madinah. Mulai dengan membina pribadi-pribadi muslim, membentuk komunitas muslim, hingga mendirikan negara. Memang kita masih jauh dari kriteria mendirikan negara ketika pribadi muslim, dan komunitas muslim saja masih PR. Tapi apakah masuk dunia politik itu terlarang? Sementara dengan masuk ke sana banyak yang bisa dilakukan: di parlemen, di meja birokrat, di sekolah-sekolah, di lingkungan sekitar rumah.. langsung berinteraksi dengan mereka. Terjun dan merasakan langsung itu bagi kami adalah perjuangan yang sesungguhnya. Memang tak mudah berjuang seperti ini. Kerap merasa berat, tidak pada kapasitasnya, disangka haus kekuasaan, dan sebagainya. Tapi bagi kami itu sunatullah yang memang harus dihadapi ketika memutuskan memilih jalan ini. Di situlah letak perjuangannya.

Jadi jujur saja saya tersinggung berat, ketika dikatakan “sebagian kita tidak yakin dengan janji Allah, tidak bersabar, putus asa”. Sebuah klausa yang sangat terkesan menghakimi sekelompok jamaah yang sudah berjatuh bangun, berpeluh, bahkan berdarah.. dalam  menegakkan kalimatullah. Tidakkah ada di hatimu rasa perjuangan yang sama.. sehingga terlontar kata-kata menyesakkan semacam itu.

Saudariku karena Allah, sesungguhnya kita ini dalam tujuan yang sama..hanya caranya berbeda. Kita bisa menggabungkan cara-cara kita  agar kita bersatu, dan tujuan lebih mudah tercapai. Tak perlulah saling menjatuhkan, apa gunanya? Hanya membuat musuh-musuh islam tertawa. Kamu perlu tahu saudariku, saya ini termasuk yang sering merasa berat ketika diberi amanah-amanah dakwah karena merasa belum mampu/ belum cukup bekal seperti yang juga kau rasakan. Tapi saya yakin, dimanapun jalan yang kita pilih kita akan menghadapi masalah.. jadi tinggal bagaimana kita mengelola masalah itu. Fokus pada tujuan dan menghindari perpecahan. Saya sering lho ikut kajian ustadz-ustadzmu meski lewat internet. Mereka mumpuni sekali dalam ilmu yang kami hauskan itu.

Kiranya, demikian juga kami harapkan darimu… rasa persaudaraan dan saling dukung. Karena kita saling melengkapi. Kami berharap sebagian perjuangan kami pun dapat kau rasakan kelak.. Entah berupa kebijakan yang akhirnya turun mengetuk pintu rumahmu, memfasilitasi pendidikan keturunanmu, ataupun yang lebih sederhana dari itu.

Leave a comment

Filed under agak serius

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s