Budaya Membaca dan Manfaatnya bagi Pegawai Negeri Sipil: Information Activities in Work Tasks

Blogs-I-cant-Read-the-anti-social-media

Jika ditanya oleh seseorang “apa hobi anda?” atau jika kita  harus mengisi sebuah formulir kemudian ada kolom yang menanyakan hobi, kira-kira apa yang akan anda tulis? Menyanyi, mendengarkan musik, memasak, atau membaca?. Mungkin sebagian besar dari kita akan menulis “membaca” jika bingung tentang apa sebenarnya hobi saya. Lalu seberapa hobikah sebenarnya kita dengan aktivitas membaca?

Suka atau tidak, ternyata Negeri kita Indonesia, menduduki posisi terendah pada Peringkat Budaya Membaca di 52 Negara Asia Timur berdasarkan survey Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Kedudukan ini tentu bukan hal yang membangakan, mengingat Indonesia adalah termasuk negara berkembang di antara negara-negara se-Asia Timur. Ini artinya Indonesia memang belum terlalu maju, namun tidak teramat tertinggal dibanding yang lain. Kenyataannya, kemajuan teknologi dan tingginya arus informasi dan budaya luar yang masuk ke Indonesia menjadi salah satu penyebab rendahnya budaya membaca orang Indonesia. Bangsa ini lebih betah nonton televisi seharian dibanding membaca, lebih senang shopping saat liburan dibanding ke toko buku, dan lebih menikmati obrolan berjam-jam ketimbang membaca Koran dan mengupdate berita hari ini.

Kelesuan minat baca seseorang tentu didasari oleh sesuatu, misalnya kurangnya motivasi membaca dan minimnya pengetahuan tentang nilai (value) di balik aktivitas membaca itu sendiri. Padahal membaca adalah salah satu cara paling mudah untuk belajar secara mandiri. Selain itu, dengan membaca tentu akan bertambah informasi dan pengetahuan kita. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan, kita akan semakin luas memandang dunia, makin mudah beradaptasi, dan makin cepat mengejar prestasi.

Membaca dan tugas kerja (work tasks)

Sebagai seorang pegawai, rasanya sangat penting bagi kita untuk menjadi bagian kalangan minoritas yang hobi membaca. Karena membaca bukan hanya membawa manfaat pribadi bagi diri sendiri, melainkan juga bagi organisasi.

Dalam kehidupan organisasi di tempat kerja, budaya membaca akan membawa banyak dampak positif. Salah satunya, seperti diungkapkan oleh Katriina Byström dan kawan-kawan melalui penelitiannya yang bertopik Information Activities in Work Tasks (IAWT), bahwa pegawai yang rajin membaca akan menemui satu dari beberapa solusi dalam menyelesaikan tugas-tugas (tasks) pekerjaannya. Bahkan teori IAWT mengaitkan antara tingkat kerumitan suatu pekerjaan (task complexity), dengan jenis informasi yang akan digunakan untuk menyelesaikan tugas.  Kemudian tingkat kerumitan ini dikaitkan dengan berbagai kemungkinan, seperti yang telah diringkas oleh Putu Laxman Pendit dalam artikelnya (2009), sebagai berikut:

  1. Jika seseorang merasa tak memerlukan informasi sewaktu bekerja, maka sebuah tugas dimaknai secara pasif berdasarkan dokumentasi yang ada. Tugas seperti ini biasanya adalah tugas-tugas rutin.
  2. Sumber-sumber informasi tentang pekerjaan seringkali adalah orang-orang yang terlibat dalam suatu tugas, selain dokumen-dokumen di kantor.
  3. Sebuah aktivitas (event) maupun sebuah kunjungan kerja juga dapat menjadi sumber informasi.
  4. Informasi tentang domain kerja biasanya diperoleh dari literatur, dari pertemuan dengan pakar, dan dari pertemuan atau rapat.
  5. Pakar dan pertemuan atau rapat seringkali merupakan sumber informasi yang paling sering digunakan untuk menyelesaikan tugas.

Ketika untuk sebuah tugas tertentu seseorang merasa memerlukan banyak jenis informasi, maka terjadi 3 kemungkinan:

  1. Ia menggunakan banyak sumber, tetapi mengurangi variasi jenis informasi.
  2. Ia akan lebih banyak menggunakan rekan kerja sebagai sumber.
  3. Ia akan lebih sering mencari dokumen eksternal.

Sementara itu kalau seseorang berpendapat bahwa tugas yang harus dikerjakannya semakin kompleks alias rumit, maka terjadi 3 kemungkinan:

  1. Ia akan cenderung ingin menggunakan jenis informasi yang beragam.
  2. Ia akan semakin ragu menetapkan apa sebenarnya yang ia inginkan.
  3. Para pakar di kantor akan menjadi pihak yang semakin dihandalkan.

Dari tiga kemungkinan tersebut, dapat kita lihat bahwa dalam setiap level kerumitan tugas, senantiasa ada unsur kebutuhan terhadap sumber sumber literatur. Itu artinya, setiap memecahkan masalah dalam konteks tugas pekerjaan, selalu butuh membaca. Tentu dengan mengoptimalkan sumber-sumber literatur yang ada dan memadukannya dengan sumber informasi lainnya, sebuah penyelesaian masalah akan makin baik. Makin baiknya kinerja seorang pegawai akan sangat berpengaruh pada performance suatu organisasi tempat bekerja.

Membaca dan Inovasi Organisasi

Dalam skala yang lebih besar, ternyata kebiasaan membaca dan menyelesaikan tugas kerja dengan memanfaatkan literatur akan membawa dampak positif bagi perkembangan sebuah organisasi. Makin baik kualitas kinerja seorang pegawai, makin baik pula performance sebuah organisasi. Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah analogi yang bagus untuk kita ingat. Analogi ini ditulis berdasarkan riset beberapa peneliti di Belanda.

Riset yang dilakukan oleh Ellen de Rooij dari Stratix Group di Amsterdam menyimpulkan bahwa sebagian besar perusahaan-perusahaan di Eropa berumur pendek. tanpa mengukur besar/ kecilnya perusahaan, diperkirakan bahwa masa hidup perusahaan-perusahaan di sana berkisar 12,5 tahun. bahkan pada beberapa negara, 40% dari semua perusahaan yang baru didirikan berumur dibawah 10 tahun (De Geus dalam Jann Hidajat, 2006). Jika kita lihat fenomena ini, tentu timbul pernyataan bahwa ternyata lebih banyak perusahaan yang berumur pendek ketimbang yang berumur panjang di dunia ini.

Hal tersebut bisa dikatakan benar, karena ada perusahaan yang bisa bertahan hingga 800 tahunan, seperti Stora (Swedia). Ada pula perusahaan Jepang Sumitomo yang telah berusia 400 tahun. Lalu mengapa bisa demikian banyak perusahaan pendek umur? Menurut De Geus, perusahaan yang berumur panjang adalah perusahaan yang mampu terus belajar dan mengadakan perubahan sesuai dengan tuntutan zaman. Ketika sebuah perusahaan konsisten untuk belajar, maka ia akan menjadi perusahaan yang terus hidup (The Living Company). Sebaliknya, jika perusahaan berhenti belajar, maka ia akan mati tertinggal zaman yang terus bergulir maju.

Proses belajar pada organisasi ini tentu sangat dipengaruhi oleh Sumber Daya Manusia di dalamanya. Jika SDM di dalamnya adalah kumpulan individu yang mampu menyetir dirinya untuk senantiasa belajar, tentu kualitas per orangannya dapat dijamin. Namun jika sebaliknya, SDM yang ada adalah orang-orang yang nyaman dengan kondisi mayoritas orang indonesia, khususnya yang berminat baca rendah, dan berkeinginan belajar minim, maka sulit untuk menyatakan bahwa sebuah organisasi benar-benar hidup (living company).

Masih menurut De Geus, ada 2 tipe perusahaan. Yang pertama adalah Economic company, yang kedua adalagh the river company. Economic company adalah perusahaan yang orientasinya hanya uang dan uang, sehingga ia hanya fokus pada pengoptimalan pencapaian laba pada kurun waktu terbatas. Perusahaan tipe ini tidak terlalu memikirkan hal-hal yang visioner, karena apa yang mereka kerjakan adalah apa yang ada di depan mata mereka saja. Jika diibaratkan, perusahaan Economic ini adalah seperti air di lubang kecil, jika datang gerimis atau hujan lebat, maka air di dalamnya akan “luber” sia-sia sedangkan volume di dalam lubang pun tak bertambah, justru berkurang.

Tipe kedua adalah the River Company. Tipe ini lebih baik dari tipe 1 tadi. pada tipe ini, perusahaan meniru falsafah sungai yang akan terus mengalirkan air bagaimanapun musimnya. lama untuk membuatnya jatuh karena tidak boros dan bisa menyesuaikan diri.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, semoga dapat ditarik benang merah yang jelas, yaitu pentingnya kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi, tetapi juga membawa dampak positif yang luar biasa untuk organisasi tempat kita bekerja. Jika kita terbiasa membaca, maka pemahaman dan wawasan kita tentang sesuatu akan makin luas. Keluasan wawasan itu akan membawa dampak pada bagaimana kita menyelesaikan masalah. Dan cara kita menyelesaikan masalah, tentu akan berakibat pada kinerja pribadi, kinerja kelompok, hingga kinerja organisasi.

Kita sebagai pegawai yang lahir dari sistem reformasi birokrasi, harusnya mulai bangkit dan say good bye dengan budaya organisasi lama yang nyaman namun kurang produktif. Tentunya kita ingin organisasi tempat kita bekerja diibaratkan seperti The River Company. Sudah saatnya pegawai baru keluar dari zona nyaman dan menciptakan zona nyaman baru yang lebih produktif dan inovatif.

—————————————————

Inspirasi dari:

Tjakraatmadja, Jann Hidajat; Lantu, Donald Crestofel. Knowledge Management dalam konteks organisasi pembelajar. Bandung : ITB, 2006

http://www.antaranews.com/view/?i=1245246093&c=NAS&s=PDK

http://iperpin.wordpress.com/2009/03/03/perilaku-informasi-di-tempat-kerja/

Leave a comment

Filed under agak serius, sharing-sharing

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s