roti, pagi, hujan.

Hal termahal di dunia adalah nikmat. Kalau kita sehat rasanya: nikmat, bisa melihat: nikmat, bisa menghirup oksigen segar: nikmat.. dan seterusnya, kalau dilanjutkan tidak akan pernah selesai menghitung nikmat. Akhir-akhir ini saya juga jadi sadar, bahwa hal termahal lainnya selain “nikmat” adalah “menikmati”. Tanya kenapa? karena ternyata banyak orang tidak menikmati apa yang dilakukannya *hoho. Namuun, kali ini saya bukan mau nulis tentang “menikmati pekerjaan” melainkan tentang “makan roti”.

Jadi, di suatu pagi yang mendung.. saat sedang melaksanakan agenda wajib pagi hari..tiba-tiba lapar menyergap tanpa permisi. Bukaan..bukan pingin makan nasi, tapi pingin roti. Beberapa minggu ini di kost sedang musim roti karena beberapa teman senang mengolah roti tawar, begitu juga saya. Nah, pagi itu ceritanya saya sedang kehabisan stock roti di lemari makanan. Teman-teman juga. Lalu saya berinisiatif duduk di balkon depan lantai 2 sambil membaca sambil menunggu Bapak Tukang Roti *yang bunyinya pakai terompet tangan*. Namun, malang tak dapat ditolak..15 menit kemudian tak ada tanda kemunculan Bapak Tukang Roti.

Akhirnya, saya memang harus jalan dan beli roti pinggir jalan Bangka Raya. Dengan senang hati walaupun lapar saya jalan kaki pagi hari –sesuatu yang jaraang banget saya lakukan. Sebenarnya jarak kost dan Jalan Bangka Raya cuma sekitar 200 meter, tapi kalau jarang jalan emang beda yaa..*cukup ngos-ngosan juga hehe*. Ceritanya belum selesai karena ternyata ga ada tukang roti di sepanjang mata memandang Jalan Bangka! Oh Allah.. satu-satunya harapan saya tinggal Indomaret, 50 meter dari tempat saya berdiri.

Waktu itu baru jam 6 sepertinya, wong Indomaretnya juga baru loading barang dari mobil petikemas kecil dan pembelinya baru seorang bule laki-laki dan saya sendiri :). Langsung menuju rak roti dan mengambil 1 bungkus roti tawar kupas. Ke kasir. dan..sadar kalau cuma bawa uang Rp.10.000:

“Mas, tolong cek dulu harganya yaa..uang saya cuma 10 ribu hehe. *pembeli ngrepotin di pagi hari*

“Harganya Rp.9.000 mbak”

“Alhamdulillah cukup :)”

Perjalanan pulang membuat kisah roti ini makin heroik sodara-sodara.. karena tepat di depan masjid, hujan turun. Pasti kebayang gimana senengnya saya.. Secara udah lama juga ngga hujan-hujanan. Singkat cerita..sampai di kost dalam keadaan basah tapi tidak kuyup karena hujan tidak terlalu deras.

Roti langsung diolah dan….jadilah seperti ini:

IMG_20130123_161109

Dimakan berdua Arin di kamarnya. Sengaja gangguin dia yang sedang head to head dengan laptopnya. Karena makan bersama di pagi hari di saat hujan itu nikmat sekali :) Terima kasih Allah..

1 Comment

Filed under Diary

One response to “roti, pagi, hujan.

  1. alkhamdulillah..
    hal termahal selain nikmat adalah “menikmati”..
    mencoba menikmati rintikan hujan di pagi hari :)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s