Ibu dan Dzulhijjahku

Dzulhijjah menjelang Idhul Adha ini, rasanya kangeen banget sama Ibuku. kangeeenn banget. kangen yang rasanya nyata sekali. 9 tahun berpisah dengannya membuat aku terbiasa dengan hidup sehari-hari tanpa Ibuku di sisi.

Dulu aku tak begitu menikmati betapa enaknya bangun shubuh ngga pernah kesiangan, karna ibuku yang membangunkan. Dulu aku tak terlalu memperhatikan bahwa wajah Ibuku suatu hari nanti bisa sangat kurindukan. Dulu aku selalu kesal kalau ibu menyuruhku pulang saat sedang bermain kelewat waktu. Dulu aku tipe anak yang ngga tahu kerjaan, kalau ngga disuruh ngga kerja. Dulu.. ah… kenapa dulu aku begitu..

Sedangkan sekarang,

Tiba-tiba aku menjadi terbiasa bangun pagi sendiri tanpa Ibu. Terbiasa tak melihat wajah Ibu, terbiasa tak mencium tangannya saat berangkat, terbiasa pulang jam berapapun tanpa ada yang ngomel-ngomel, terbiasa kerja sesuka hati, terbiasa dengan keterbiasaan yang tanpa Beliau..

Mataku mendanau,

dan selalu begitu jika membicarakan Ibuku.

Suatu ketika Beliau menangis di telepon, bercerita banyak hal yang membuatnya sedih.. dan sejak saat itu hampir tak ada senyum di wajahku. Menangis, sebagai hal yang langka buatku, tiba tiba menjadi kebiasaan baru. Hanya satu hal yang menjadi misiku saat itu: selesaikan masalah Ibu. Dan ternyata Allah yang Mahabaik menghadirkan solusi, meski masalah itu rumit buatku. Alhamdulillah kini senyum hadir lagi di intonasi suaramu Ibu.. senyum yang lama tak jumpa.

sembilan tahun, ah… Ibuuu..

Leave a comment

Filed under Diary

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s