Ramadhan 1995

1 hari menjelang Ramadhan 1991

Aku duduk berjongkok mengamati Mamak memotong-motong daging ayam penuh suka cita. Dari kejauhan gema bedug berdentum disaingi suara anak-anak bershalawat dari Mushala desa. Suara kambing mengembik, ayam berceloteh, dan suara palu beradu paku dari rumah tentangga ikut menjadi suara iringan di siang yang panas.

Usiaku baru 5 tahun saat itu. Mamak, sambil membersihkan usus ayam, berkata ” Besok kan kita sudah mulai puasa nduk, kamu mulai belajar ya?”.  “nanti puasa mbedug wae.. pas jam 12.00 siang, kamu boleh makan. tapi waktunya cuma 5 menit, jadi harus cepat-cepat”. Mamak bicara sambil menyelesaikan  usus ayam, sementara aku melongo dan mengangguk berkali-kali. dalam hati yang masih dangkal, aku takjub dengan pengalaman ini. aku akan berpuasa. tidak makan dan minum dari pagi sampai jam 12, lalu dilanjut sampai magrib. “kalau Bapak dan Mamak puasanya sehari apa setengah hari?” tanyaku. “yo sehari..tahun depan, kamu juga harus sehari penuh puasanya. kalau sekarang boleh setengah hari..” papar Mamak. “nanti malam kita taraweh di Mushola, Mukena mu sudah Mamak cuci bersih..”.

Ramadhan 1995

Di desaku yang cukup pelosok itu..setiap sehari sebelum Ramadhan memang selalu istimewa. Setidaknya bagiku. Bapak akan menangkap satu ayam piaraan yang cukup besar untuk di potong. Lalu Mamak akan memasak ayam dengan resep khas yang enak dan lezat. Selama beberapa hari puasa, menu ayam akan selalu menghiasi meja makan. Selain itu, setiap hari, menu mamak akan lebih enak dibanding hari-hari biasa. Mamak akan sering mendadar telur untukku. Semenjak adikku ikut puasa, telur dadar jadi untuknya. Selain telur, mamak juga akan membuat kolak, cemilan, dan es tape. Meskipun Desa Sekincau sangat dingin, tapi berbuka dengan es tidak akan menambah terlalu dingin. Sementara, tetangga kanan kiri akan membuat menu menjadi makin ramai. Kadang-kadang mereka mengantar sup dan gulai. Jarang ada kurma di sekincau, tidak seperti di jakarta.

Selebihnya, adalah ketika aku buru-buru makan jam 12 siang. Konon kata mamak, buka untuk puasa setengah hari hanya berlaku lima menit, lewat dari itu puasa akan batal. Jadilah aku makan cepat kilat selama 5 menit, lalu dilanjut puasa lagi hingga magrib tiba.

Malam hari selalu diisi dengan tarawih dan tadarus. Aku sering ikut tadarus dengan teman-teman sebaya. Kami duduk melingkar disokong meja panjang dengan Al-Quran di atasnya. Lalu tilawah bergantian menggunakan pengeras suara. Meski demikian suaranya takkan terdengar jauh, karena TOAnya sudah uzur. Yang perempuan masih mengenakan mukena putih, sedangkan yang laki-laki mengenakan sarung, kaos dan peci. Ketika satu orang membaca, yang lain menyimak. Sesekali ketika ada di sela-sela atau  akhir ayat yang berbunyi kaafiruun, munafiqun, nashoro, yahuuda.. maka teman-teman akan berseru ramai “ Laknatullah ‘alaiiih..!!”. Dan itu bagian yang paling kusuka, karena mampu mengusir kantuk.

Bapak menungguku tadarus sampai jam 10 malam. Begitu dan seterusnya.

Biasanya sebelum dimulai tadarus, setelah tarawih, ada ceramah kecil. Dan semua anak sekolah akan menyimak dengan seksama ceramah itu, menulis dengan rapi di “Buku Agenda Ramadhan” yang tiap tahun ditugaskan guru Agama. Pak Ustadz akan kebanjiran tanda tangan di akhir ceramah.

Pada akhir Ramadhan, kelompok tadarus biasanya sudah khatam lebih dari sekali. Warga akan membawa makanan untuk kenduri akhir ramadhan dan “Khatimul Qur’an”.  Kelompok tadarus akan membaca juz 30 di malam terakhir Ramadhan. Akan banyak makanan di masjid. Sehingga esok paginya, tugas remaja masjid bersih-bersih sembari mempercantik masjid menjelang Idul Fitri.

Ramadhan 2009

Sekarang, semuanya tentu berbeda. Sehari menjelang Ramadhan besok, mungkin tak ada suara bedug dan puji-pujian. Tidak ada ayam khas Mamak di awal puasa dan es tape akan berganti menjadi es buah.

Ada hal yang hilang, tapi ada pengganti yang datang. Bukan bedug yang mengingatkanku, tapi spanduk-spanduk di condet yang berbunyi: “Hari gini gak puasa?kapan tobatnya?”. Jika dulu, makanan istimewa Mamak yang mengingatkanku, kini rangkaian tarhib ramadhan, rubrik ramadhan, artikel ramadhan, bacaan ramadhan, SMS ramadhan yang mengingatkanku.  Makin kurindukan kehadirannya tahun demi tahun. Rasulullah SAW mengatakan bahwa siapa yang gembira menyambut ramadhan, maka diharamkan jasadnya masuk neraka. Subhanallah..

Nuansa jelang Ramadhanku telah berganti. Ada yang kurindukan, dan banyak yang kusyukuri..Alhamdulillah..

Leave a comment

Filed under Diary

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s