Berhati-hati

Hudzaifah adalah salah satu sahabat kabir di zaman Rasulullah SAW yang diamanahkan khusus untuk menjaga rahasia. Tugas ini diembannya karena dia termasuk orang yang pandai menjaga rahasia. Hampir semua rahasia orang-orang kafir, munafik, sampai orang-orang beriman dipegang oleh hudzaifah. Kepandaiannya ini didukung oleh kezuhudan kepada Allah dan loyalitas yang tinggi kepada Rasulullah SAW. Hudzaifah pernah berkata:” Wahai Rasulullah, aku tidak takut mati.. yang aku takutkan hanyalah jika rahasia dakwah ini terbongkar..”

Subhanallah, keimanannya telah membuat takut kematian menjadi sepele dibanding takut akan terbongkarnya rahasia.

Pada sebuah kesempatan, Abu Bakar RA datang kepada Hudzaifah RA.

“Wahai sahabatku, Hudzaifah, apakah aku temasuk dalam daftar orang-orang munafik?”

“Tidak wahai Abu Bakar.”

Lalu Abu Bakar berlalu dengan senyuman kegembiraan. Namun di hari yang lain, Abu Bakar sering bahkan selalu merasa khawatir jangan-jangan, tanpa diketahuinya, dirinya termasuk ke dalam daftar orang-orang munafik.

Pelajaran yang ingin kuambil dari kisah ini adalah rasa hati-hati dan was-was Abu Bakar yang luar biasa. Rasa takut yang bersumber dari tebalnya iman kepada Allah SWT. Takut jika ada satu kelakuan yang tanpa ia sadari membuatnya masuk ke dalam daftar orang-orang munafik. Betapa takwanya Abu Bakar ini.. Beliau sangat hati-hati dan detail terhadap setiap perbuatannya demi menghindari apapun yang berpotensi menjerumuskanke dalam dosa atau kemunafikan.

Kehati-hatian inilah yang menjadi kata kunci. Hati-hati berarti waspada dan penuh kesadaran. Kita bisa ambil satu contoh lagi, ketika Umar RA berdialog dengan Ubay RA.

“ Wahai Ubay, tahukah engkau apa arti taqwa?”

“Waqhai Umar, tidakkah engkau pernah berjalan di jalan yang penuh duri?”

“Ya, aku Pernah”

“lalu apa yang kau lakukan?”

“Aku berjalan dengan penuh kehati-hatian..aku menghindari jalan yang dapat menyebabkan duri menusuk kakiku.”

“Ya, itulah taqwa.” Mereka seolah-olah ingin mewariskan sebuah pelajaran berharga pada kita tentang ketaqwaan. Jagalah tangan kita, kaki,kita, tubuh kita, jiwa dan raga kita, agar jangan tertusuk duri di jalan kehidupan yang penuh duri-duri dosa ini.

Leave a comment

Filed under Diary

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s