“Untuk Sahabat-sahabat Kecilku..”

Malas, untuk sekadar mengingat masa lalu, apalagi jika pahit.

Sebaliknya, jika masa lalu itu manis, sedang sendirianpun (bisa) senyum sendiri *hehe* Untuk yang pernah mengenalku, sadarilah..waktu memang tak kan bisa kembali lagi. Tidak mungkin kita bisa seperti dulu: muda, belia, bebas, tanpa beban. Saat itu hutan masih menjadi surga, anggrek bulan masih selalu kita nanti musimnya, bunga kecubung yang kita panjat pohonnya, bunga bougenville yang kita anyam panjang-panjang, bunga sedap malam yang bikin kita percaya kuntilanak.

Ketika ke’luar-biasaan’ itu menjadi latar alam drama kita. Dulu, semua itu terasa biasa. Sebiasa kita memetik anggrek sambil memanjat, sebiasa kita memetik kecubung dan meniupnya hingga pecah, sebiasa kita menikmatinya sesuka hati kita. Namun, kini semuanya terasa indah bertubi-tubi.. sangaat indah.

kecubungbugenfilsedapmalam

Kisah kita masa anak-anak, saat kita belum bisa membedakan bedaku dan bedamu, samaku dan samamu. Saat yang kutahu hanya senyum mu berarti setuju, tawamu berarti gembira, dan marahmu berarti bahaya. Saat yang kupaham hanya mentari berarti bersamamu, sedangkan malam berarti bersama ayah dan ibuku. Sedangkan saat ini, kupandangi diri , wajah, tangan, kaki. Ternyata kini kita telah dewasa. 12 tahun sudah kita terpaut dari kisah itu. Kini diriku dan dirimu telah terpisah jauh..bahkan tak hanya waktu dan jarak.. tapi kebiasaan pun jauh berbeda. Lingkungan kita tak sama.

Perubahan pasti banyak terjadi padamu, seperti yang terjadi padaku. Aku bahagia mendengarmu kini sudah bersama bayi kesayanganmu.. Aku bahagia mendengarmu kini sudah bekerja dan menikmati pekerjaanmu, aku bahagia melihat semangat belajarmu kembali seperti dulu saat kita sekolah, aku bahagia kalian semua telah mandiri. Tapi, ada yang membuatku cemburu… yaitu jika komitmen kita dulu luntur dan tak terlihat padamu. Ingatkah komitmen itu? Ingatlah masa-masa kita pamit pada Ibu di sore hari, bergandeng ke masjid dan mengaji. Ingatlah masa-masa kita membangun pondasi itu, kini saatnya kita membuat bangunan di atasnya sahabat.. lalu mempercantik bangunan itu..

Sahabat, keberadaan kita yang jauh, merupakan sunatullah dunia fana. Perpisahan memang mutlak terjadi di alam ini. Namun ingatlah justru do’a tersembunyi dari orang yang jauh itulah yang Allah kabulkan. Ingatlah dulu guru ngaji kita pernah mengatakan bahwa kekekalan tidak terjadi di dunia ini, tapi di akhirat.. rumah abadi kita selanjutnya..

Sahabat, Ingatlah kembali masa-masa kita pamit pada Ibu di sore hari, bergandeng ke masjid dan mengaji..

dan tiba-tiba aku ingin mendengar tilawahmu.

kid_ngaji2

Leave a comment

Filed under Diary

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s