Hafalan Shalat Delisa

Peristiwa gempa di Padang kemarin, mengingatkan tentang satu buku yang saya pending meresensinya, “Hafalan Shalat Delisa”.

—————————————

Judul: Hafalan Shalat Delisa

Pengarang: Tere Liye

Penerbit: Republika, 2008 (cetakan ke VIII)

Resensi

Novel dengan tema keluarga dan kampung halaman, adalah salah satu genre yang saya suka. Diantaranya novel “Hafalan Shalat Delisa” ini. Penulisnya Tere Liye, mengambil setting tempat di Aceh tepatnya Lhok Nga, salah satu areal terparah yang terkena hantaman tsunami pada 2004.

Pemeran utama pada cerita ini adalah seorang anak 5 tahun bernama Alisa Delisa. Berkarakter lucu, polos sesuai dengan usianya, dan yang paling menonjol adalah karakter cerdas dan pintar bersyukur. Dalam novel ini, dikisahkan Delisa tinggal bersama Ibu, dan ke tiga kakaknya yang semuanya perempuan. Ayahnya seorang teknisi kapal tambang minyak. Selalu  ikut kapal mengelilingi laut lepas dan terbiasa singgah antarbenua. Pekerjaan ayahnya ini membuat sang ayah kerap pergi selama 3 bulan, dan kembali selama 2 pekan kecuali cuti Ramadhan dan Idhul Fitri.

Dikisahkan pula, Delisa saat itu sedang berusaha keras menghafal bacaan shalat. Di sekolahnya, anak-anak seusianya memang sudah diharuskan hafal bacaan shalat oeh Ibu Guru. Suatu hari mereka akan dites kelayakan bacaannya. Ibu Delisa menyiapkan hadiah kalung untuk setiap anaknya yang berhasil lulus tes bacaan shalat. Termasuk Delisa.

Dan cerita sedih bermula dari kalung itu.

Novel ini memang sangat bernafas haru biru. Tere Liye menghadirkan cerita dengan bahasa yang sangat simpel, layaknya bahasa anak-anak. Namun simplisitasnya itu tidak samasekali mengurangi kekhusyu’an membaca. Bahkan ceritanya yang sangat menyentuh hati ini, berpotensi membuat pembaca menangis haru, tidak hanya sekali, tetapi bisa berkali-kali.

Suatu hari, ketika waktu yang ditentukan tiba, Delisa menghadap Ibu Guru untuk mempraktikkan sekaligus membaca hafalan shalatnya. Tepat ketika Delisa akan sujud, peristiwa 26 Desember 2004 itu membatalkan sujudnya sekaligus menghancurkan sebagian besar keluarga, sahabat, dan kampung Lhok Nga Delisa. Ibu dan seluruh kakaknya meninggal. Desanya hancur lebur tiada sisa. Namun Delisa selamat, meski sebelah kakinya harus diamputasi. Akhirnya, Delisa membangun masa depan yang sama sekali baru, berdua, bersama ayahnya.

Kabar mengenai meninggalnya kakak-kakaknya satu persatu ditelan pahit oleh kedua ayah dan anak itu. Satu kabar yang lama tak jelas, adalah keberadaan Ibunya. Apakah ibunya masih hidup? Sedangkan saat itu Ibu sedang menunggu delisa di depan pintu kelas, menggenggam kalung hadiah yang siap disematkan tepat setelah Delisa berhasil praktik shalat.

Delisa sendiri, adalah anak yang tidak pernah menangis, mengeluh apalagi stress atas kejadian yang menimpanya. Meninggalnya orang-orang yang ia sayangi, amputasi kakinya dan semua kenyataan pahit itu dihadapinya dengan hati yang lapang. Terlihat dan terasa  sekali keikhlasannya, bahkan takjub sekali ketika kita mambaca caranya menghadapi kenyataan pahit. Ia pandai mengambil hikmah, pandai bersyukur, dan pandai menyembuhkan hati yang luka. Secara implisit, bagi Delisa, kehidupan sepahit apapun tak ada gunanya disesali. Hal yang harus dilakukan adalah survive. Menyelamatkan masa depan dengan cara melanjutkan hidup penuh kesabaran dan keikhlasan. Keyakinan Delisa adalah Allah tidak akan jauh dari hamba yang beriman dan bertaqwa. Kasih sayangNya senantiasa dekat kepada setiap hamba yang sabar.

Delisa, suatu hari bermimpi bertemu Ibunya di taman nan indah. Delisa mengatakan ingin ikut Ibu, namun sang ibu mengatakan bahwa delisa harus selesaikan shalatnya, baru bertemu Ibu. Dan ternyata mimpinya menjadi kenyataan. Ketika sedang camping kecil dengan teman-teman pengajiannya, Delisa shalat ashar dengan sempurna. Itu adalah shalatnya yang sempurna setelah tsunami. Seusai shalat, Delisa izin mencuci tangan di sungai, saat itu ia melihat kilauan emas dibalik semak. Ia mendatanginya, ternyata itu adalah kalung dengan huruf D, kalung yang pernah dibeli Ibu untuknya. Kalung itu tergeletak di tangan yang sudah menjadi tulang belulang. Ketika ia mengambilnya, kakinya terpeleset,dan ia jatuh ke sungai.

Novel ini sangat baik dibaca oleh orang yang sedang ingin merefresh dirinya. refresh yang saya maksud adalah refresh pola pikir. Misalnya, kita yang hidupnya di tengah kota besar, hidup serba ada, tapi kesibukan padat sehingga sering terasa hidup ini sangat pragmatis. semuanya individualis dan tujuannya demi mencapai kepuasan pribadi. jarang sekali terpikirkan oleh kita sebagai anak, mengucapkan kalimat “aku sayang Ibu karena Allah” langsung kepada sang ibu. Jarang sekali kita berbagi pada yang membutuhkan, dan yang paling menohok, jarang sekali kita bersyukur….atas nikmat tak terhitung yang Allah limpahkan. Nah, Delisa hadir mengajarkan kita (terutama saya) dengan caranya sebagai seorang anak kecil. Malu saya  membacanya, sangat amat malu..dan sungguh terlalu memalukan..

Leave a comment

Filed under Resume Buku

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s